Mengenal Masyarakat Kutamanah


Dahulu, sejarah awal mula Kabupaten Purwakarta, Subang dan Karawang adalah satu wilayah yaitu Kabupaten Karawang yang beribukota di Udug-udug (maps) dimana orang-orang zaman sekarang menggunakan nama udug-udug dengan pengertian tempat yang berada di antah berantah, namun tidak tahu bahwa tempat itu memang ada bahkan merupakan ibukota Kabupaten pada zaman dahulu. Lokasi Desa Kutamanah sendiri berada tepat di sebelah selatan atas Udug-udug melewati tempat bernama batu beulah dimana dahulunya disini terdapat sebuah batu besar bulat yang terbelah dua dan dikenal angker pada masa tersebut. Masyarakat Desa Kutamanah sendiri diperkirakan adalah warga relokasi terdampak area danau Jatiluhur dan sebagian adalah migrasinya para petani yang membutuhkan lahan baru untuk memenuhi hajat hidup sehari-hari.

Awalnya masyarakat Desa Kutamanah dan sekitarnya memenuhi kebutuhan sehari-hari dari bertani padi gogo atau padi darat (pare huma) yang mana saat musim kemarau mereka akan membuka lahan hutan lalu membakarnya. Ketika musim penghujan tiba, tanah yang mulai basah mulailah di aseuk (membuat lubang di tanah dengan sebatang kayu) lalu menanami padi, jagung, kacang kratok (roay), kacang gude (hiris), kecipir (ja'at), cengek, turubuk dan sayur mayur lainnya serta terakhir adalah pisang. Urutan/siklus kebutuhan sehari-hari mereka adalah sebagai berikut :

  1. Beras hasil simpanan panen tahun lalu digunakan untuk memenuhi kebutuhan saat ini.
  2. Panen jagung pertama kali di ambil saat jagung masih muda (jagung semi) sekitar 1.5 bulan setelah tanam, lalu beberapa minggu kemudian bisa diambil untuk jagung rebus, bakar dan sayur. Lalu terakhir adalah jagung kering untuk disimpan.
  3. Selanjutnya adalah panen sayur mayur yang di panen bertahap untuk kebutuhan sehari-hari hingga panen padi tercapai.
  4. Terakhir, setelah panen padi selesai maka mereka akan menunggu hasil buah pisang untuk di jual hingga pembukaan lahan tahun berikutnya.
Namun seiring berjalannya waktu, generasi para petani mulai bergeser dan menjual tanah garapan mereka ke perusahaan pengepul tanah sehingga saat ini jarang sekali yang masih mempertahankan siklus diatas karena keterbatasan lahan hingga pada akhirnya beralihlah masyarakat ini menjadi penggarap tanah lahan perhutani dengan komoditas bambu sebagai tanaman yang mudah di tanam dan minim perawatan.

Comments

Popular posts from this blog

Jenis Bambu yang Ada di Kutamanah

Legenda Batu Padjajaran & Sangkuriang di Kutamanah